Banyak Negara Melawan Batu Bara, Indonesia Malah Semakin Rakus

Dirty-Coal

Harapan pertambangan batu bara di negara-negara berkembang mengalami fase tenggelam. Batu bara – benda hitam yang dibakar untuk menggerakan modernisasi negara-negara berkembang saat ini terpuruk.

Isu efisiensi energi, dampak polusi serta kompetisi dari jenis bahan bakar lain membuat banyak negara semakin menentang penggunaan batu bara. Dari sisi harga,  pasar penjualan batu bara mengalami penurunan drastis.Bursa pasar penjualan batu bara di Dow Jones secara total jatuh hingga mencapai 76% dalam lima tahun terakhir.

Pertambangan batu bara berbiaya tinggi di negara-negara kaya  mengalami pukulan telak. Semisal, 24 tambang batu bara di Amerka Serikat mengalami kebangkrutan. Sedangkan 1 hingga 6 perusahaan yang masih bertahan mengalami penurunan pendapatan. Bahkan di Australia yang menerapkan pertambangan batu bara terbuka berbiaya rendah pun menjadi gelisah.

China masih menjadi pasar yang kuat. Negara ini merupakan pengguna batu bara terbanyak. Di tahun 2014 konsumsi batu bara China menurun 1,6 persen, meskipun pertumbuhan ekonominya 7,3 persen. Sebagai negara yang rakus akan kebutuhan besi baja, permintaan batu baranya mengalami penurunan. Penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik juga mengalami penurunan karena faktor polusi. Isu konservasi air juga menjadi perhatian bagi para pembuat kebijakan di China. Sebagai akibat trend penggunaan batu bara  diperkirakan hingga tahun 2020 China akan menghabiskan seperempat cadangan airnya. Di Beijing 2 pabrik besar yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakar telah ditutup. Dan akan menyusul satu pabrik lagi tahun depan.

Sementara di Indonesia  sendiri berdasarkan informasi dari Kementerian ESDM , di tahun 2015 ini ada 40 perusahaan tambang batu bara telah bangkrut dan tutup operasi akibat jatuhnya harga batu bara.

Batu bara merupakan jenis bahan bakar terkotor. Secara global 40 persen kebutuhan listrik di dunia menggunakan batu bara. 1.617GW dari kapasitas global, 75 persennya berasal dari batu bara yang dibakar dalam temperatur rendah. Batu bara yang dibakar dalam temperatur rendah akan menghasilkan polusi asap buang yang mengandung mercury, sulfur dan oksida nitrat. Mercury yang terbuang ke udara akan terhirup dan memicu penyakit otak. Sementara sulfur dan oksida nitrat akan berakibat berbagai penyakit paru-paru. Secara keseluruhan, batu bara telah menelan sekitar  800.000 korban jiwa per tahun.

Ironisnya Kementerian ESDM Republik Indonesia justru mendorong penggunaan batu bara guna memasok kebutuhan energi listrik di dalam negeri.

(Disarikan dari laporan mendalam The Economist / www.economist.com dan www.detik.com )