Dari Kita Untuk Citarum’ Publik Suarakan Dukungan untuk Masa Depan Bebas Toksik

KML

Press Release

Bandung, 20 Mei 2016. Kegiatan publik “Dari Kita Untuk Citarum” digelar oleh Koalisi Melawan Limbah, berlangsung hari ini di Taman Musik Bandung. Kegiatan ini digelar tiga hari menjelang putusan sidang gugatan Koalisi Melawan Limbah yang akan diumumkan pada hari Selasa, 24 Mei 2016 di PTUN Bandung. Acara publik ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada publik tentang permasalahan pencemaran bahan berbahaya beracun industri di Citarum, dan untuk menggalang dukungan publik luas terhadap gerakan Melawan Limbah.

Kegiatan ini terdiri dari serangkaian aktivitas diantaranya diskusi publik yang menghadirkan Wakil Gubernur Jawa Barat serta sejumlah instansi terkait seperti BPLHD Jabar serta KLHK. Beberapa komunitas dari Bandung seperti Lamda Art dan Gombong Nyora turut meramaikan acara ini. Sejumlah foto karya pewarta foto dari Wartawan Foto Bandung dan Pewarta Foto Indonesia Bandung yang memberikan potret berbagai kondisi Citarum saat ini turut dipamerkan. Selain itu juga digelar lokakarya recycling-upcycling pakaian bekas oleh desainer Yufie Kartaatmaja sebagai salah satu solusi alternatif bagi busana yang lebih ramah lingkungan.

Citarum adalah sungai terpanjang dan terbesar di provinsi Jawa barat. Keberadaannya sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat disekitarnya. Pemanfaatan sungai Citarum sangat bervariasi dari hulu hingga hilir antara lain untuk memenuhi berbagai kebutuhan termasuk rumah tangga, irigasi, pertanian, peternakan, pembangkitan listrik dan industri. Perkembangan pesat industri di sepanjang DAS Citarum dan lemahnya penegakan hukum terhadap industri pencemar merupakan salah satu penyebab utama krisis pencemaran B3 di Citarum.

Pada Bulan Desember tahun lalu, Koalisi Melawan Limbah memasukkan gugatan terhadap keputusan Bupati Sumedang tentang pemberian IPLC (Izin Pembuangan Limbah Cair) kepada tiga pabrik tekstil di kawasan Rancaekek. Proses hukum yang berjalan telah melalui serangkaian persidangan, termasuk diantaranya sidang untuk mendengarkan keterangan saksi ahli dan fakta dan pemeriksaan setempat.
Bulan April 2016, Koalisi Melawan Limbah meluncurkan sebuah laporan yang menghitung kerugian ekonomi akibat pembuangan limbah industri di Sungai Cikijing, Rancaekek. Dalam Laporan yang berjudul “Konsekuensi Tersembunyi” tersebut terungkap bahwa total kerugian ekonomi akibat pencemaran di kawasan Rancaekek dengan pendekatan Total Economic Valuation (tanpa mengikutsertakan biaya abai baku mutu) mencapai angka Rp. 11.385.847.532.188 (± 11,4 Triliun). Kerugian ekonomi yang dihitung adalah kerugian masyarakat pada periode 2004-2015 dari multisektor meliputi sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kesehatan, kerugian karena kehilangan jasa air, penurunan kualitas udara, dan kehilangan pendapatan yang mencapai lebih dari 3,3 triliun. Selain itu estimasi biaya remediasi 933,8 Ha lahan tercemar mencapai setidaknya lebih dari 8 triliun.

Kasus Rancaekek dapat menjadi potret pembuangan bahan kimia berbahaya beracun yang masih terjadi secara luas ke badan sungai dan lingkungan Indonesia dan betapa mudahnya industri untuk mencemari dan lari dari tanggungjawabnya. Praktik kotor dan tidak bertanggungjawab industri yang menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat dan lingkungan seperti di Rancaekek tidak boleh mendapat tempat lagi di masa depan.

Kontak media:
Dadan Ramdan, Direktur Eksekutif WALHI Jawa Barat, 0821-1675-9688
Adi M Yadi, Ketua Pawapeling, 0818-0956-7784
Ari Mastalia, Tim Kuasa Hukum KML, 0811-2222-748
Ahmad Ashov Birry, Detox Campaigner Greenpeace Indonesia, 0811-1757-246
Rahma Shofiana, Media Campaigner Greenpeace Indonesia, 0811-1461-674

PLTU Batubara Bertanggung Jawab atas Racun yang Mencemari Air dan Laut Indramayu.

PLTU  idrmyu

Siaran Pers

Pada moment hari air sedunia tahun 2016 ini, WALHI Jawa Barat menyebar luaskan hasil studi kajian laporan pengelolaan lingkungan yang dilakukan PLN/PJB sebagai penanggung jawab dan pelaksana operasional PLTU Sumuradem Indramayu.

Hentikan Membunuh Jawa dengan Krisis Ekologi

2000px-Java_blank_map

Yogyakarta 18/2/2016. Pertemuan WALHI se Jawa yang diselenggarakan di Yogjakarta menghasilkan temuan terkini tentang kondisi lingkungan di Pulau Jawa. Pertemuan yang berlangsung selama 3 hari ini diikuti oleh WALHI DKI Jakarta, WALHI Jabar, WALHI Yogyakarta, WALHI Jateng dan WALHI Jatim.

Dalam pertemuan tersebut terungkap fakta bahwa kondisi lingkungan pulau di pulau jawa makin terancam dengan politik kebijakan pemerintah sektor pembangunan ekonomi  terutama infrasruktur. Kebijakan ekonomi yang mengedepankan pembangunana infrastruktur ini tercermin dari dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) dan proyek Masterpaln percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi indonesia (MP3EI). Dua dokumen tersebut adalah resep membayakan bagi kelangsungan kehidupan dan lingkungan hidup di Jawa. Apalagi ditambah dengan peraturan pelaksananya.

Limbah B3 Industri Ancam Masyarakat Dengan Kanker, Koalisi Melawan Limbah Teguhkan Gugatannya

IMG_20160216_092522

Media Update

Bandung, 16 Februari 2016. Sidang gugatan Koalisi Melawan Limbah (KML) [1] di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung pada hari ini kembali digelar dengan agenda replik. KML mematahkan berbagai alasan dalam penolakan yang dikemukakan tergugat Bupati Sumedang dalam jawabannya di sidang yang lampau (9 Feb 2016).

Pernyataan bersama: Tanggapan atas Kebijakan Presiden mendorong Pembakaran Sampah untuk Energi di 7 Kota

pernyataan sikap

Kontak person:

Nur Hidayati, WALHI ­ 081316101154, email: yaya.walhi@gmail.com

Yuyun Ismawati, BaliFokus – 08123 661 5519, email: yuyun@balifokus.asia

Margaretha Quina, ICEL – 081287991747, email: margaretha.quina@gmail.com

Jakarta, 9 Februari 2016

Kami, masyarakat sipil Indonesia, mewakili berbagai organisasi yang bergerak di bidang kesehatan masyarakat, perlindungan lingkungan hidup, serta persampahan, menyayangkan Pernyataan Presiden untuk mendorong pengolahan sampah menjadi listrik di 7 kota dengan teknologi termal tanpa mempertimbangkan strategi pengelolaan sampah secara utuh, dari hulu sampai ke hilir, dampak terhadap lingkungan dan kesehatan, aspek keberlanjutan sistem, pengurangan emisi CO2, dan circular economy.